21 Oktober 2013

Idealisme Penulis di Ajang Perlombaan



Akhir-akhir ini saya mulai aktif menulis lagi. Benar-benar sangat aktif menulis, atau lebih tepatnya mengikuti berbagai perlombaan menulis, baik itu sekedar membuat puisi, cerpen atau artikel yang bersifat narasi deskriptif. Awalnya hanya iseng sebagai pelampiasan kebosanan atau mengisi waktu luang, tapi lama-lama saya jadi ketagihan untuk menulis dan mengikuti berbagai perlombaan menulis. Saya seperti menemukan passion lagi.

Meskipun saat ini saya sedang menyukai perlombaan menulis, tetapi saya tidak meu hantam kromo, semua perlombaan harus diikuti. Saya harus melakukan seleksi atas perlombaan-perlombaan itu. Bukan berarti saya pilih-pilih, tapi ada beberapa persyaratan yang diajukan dan harus ditaati yang tidak sesuai dengan prinsip saya.

Entah dimulai sejak kapan metode perlombaan mulai mengikutsertakan peran serta sosial media. Pada umumnya para penyelenggara mengharuskan atau mewajibkan para peserta untuk mendaftar sebagai anggota di group atau harus berteman dengan akun-akun yang ditentukan atau harus me-LIKE fanpage atau harus mem-FOLLOW akun mereka, dan syarat-syarat lainnya yang berhubungan dengan aktifitas di sosial media.

Metode ini juga mengharuskan para peserta untuk sharing ke beberapa orang tentang event perlombaan ini melalui status sosial media mereka. Melakukan tag atau memberikan link ke wall atau melakukan mention ke beberapa orang sekaligus tentang perlombaan yang sedang diikuti merupakan salah satu tindakan seorang spammer. Ini menurut pendapat saya, karena tidak semua orang menyukai "sampah" berserakan di akun-nya loh.

Memang saya akui kalau metode mengikutsertakan peran serta sosial media merupakan salah satu cara jitu untuk menaikkan rangking brand si penyelenggara itu. Lagipula hampir semua orang sudah mengetahui dan paham bahwa sosial media memiliki kekuatan tersendiri sebagai alat marketing yang hebat, tepat, murah dan efisien. Akan tetapi, saya pribadi merasa tidak nyaman bila harus melakukan hal ini kepada teman-teman yang ada di sosial media. Itu sebabnya saya tidak akan mengikuti perlombaan menulis yang memiliki syarat ini, harus melakukan sharing tentang info perlombaan ke akun orang lain.

Selain dari metode di atas, sistem penilaian yang dilakukan oleh juri juga mulai dipengaruhi oleh peranan sosial media. Sistem penilaian sudah tidak murni lagi atas dasar kualitas hasil karya yang dilombakan karena titik berat penilaian sudah kepada banyaknya vote atau suara yang dikumpulkan melalui fitur sosial media. Semakin banyak LIKE yang didapatkan oleh seorang penulis di karya tulisnya maka semakin besar kesempatannya untuk menang, terlepas dari apakah tulisannya memang berkualitas atau tidak.

Dengan sistem penilaian seperti itu, maka tidak heran bila sepak terjang spammer semakin menjadi. Para peserta akan semakin aktif menggunakan akun sosial media-nya untuk menyebarkan hasil karyanya kepada akun teman-temannya. Semakin banyak informasi yang disebarkan tentang event perlombaan tersebut, maka semakin naiklah branding si penyelenggara, maka tujuan pun tercapaikan.
Saya pribadi tidak menyukai sistem penjurian seperti ini, meskipun saya mengikuti beberapa perlombaan menulis yang mengharuskan saya untuk sharing link ke akun teman-teman sosial media, tapi saya tidak akan melakukan spam. Saya hanya akan meletakkan link di wall akun pribadi saya dengan beberapa kalimat persuasif. Just that, no private message, no tag, no sharing in them wall, and no mention anymore.

Meskipun saya tahu kalau tindakan idealis saya ini kemungkinan besar akan menggagalkan saya untuk menjadi pemenang, tapi saya akan tetap mempertahankan prinsip ini. Esensi pemenang saat ini juga lebih kepada mendapatkan materi, sudah samar dan rancu dengan kualitas karya yang dihasilkan. Akan tampak berbeda bila kita memang menginginkan untuk menjadi pemenang dan terobsesi untuk mendapatkan hadiah, maka cara apa pun akan dilakukan. Hal ini tentunya kembali lagi kepada penulis itu sendiri, apakah tetap mau mengikuti rule yang telah ditetapkan atau tidak.

Kalah atau menang, pecundang atau pemenang, hadiah materi atau penghargaan adalah hal yang lumrah dari sebuah event perlombaan. Terlepas dari apakah hasil karya itu memang berkualitas atau tidak. Terlepas dari apakah Anda juga memiliki pemikiran atau prinsip atau idealis yang sama seperti saya. Terlepas dari penilaian juri yang tidak bisa diganggu gugat. Terlepas dari itu semua, passion untuk mengikuti perlombaan menulis lainnya harus tetap ada, karena dari ajang perlombaan inilah para penulis dapat terus berlatih dan meningkatkan kualitas karyanya.

Selamat berlomba, selamat berkarya, dan selamat bersenang-senang dengan tulisan.

211013

10 komentar:

toko penjual ace maxs mengatakan...

terus berkaya dan tetap semangat ya

Imam Boll mengatakan...

lanjut terus mas untuk berkarya :D

Rizka mengatakan...

idem mas
Saya juga sering ikutan lomba baru2 ini
Dan Saya juga milih2 lombanya
Saya juga gak suka penilaian krn jumlh vote/share/comment. Apalagi penilaian secara acak
Selaku idealis dg lomba yg penilaian berdsr kualitas penulisan
salam kenal

trinity mengatakan...

wah suka lomba nulis ya? nulis tentang rumah gimana?

www.citralakesawangan.com/?p=1405

muhammad khoirudin mengatakan...

iya setuju banget saya juga benci model lomba seperti itu yang hanya mencari rating publik sosial media.. dan semoga ngga begitu.. tetap semangat!! salam kenal

Ani Berta mengatakan...

Kalau saya mau lomba atau apapun yang penting tetap menyisipkan pesan moral dan manfaat yang dapat dipetik pembaca. Jadi tak akan merusak idealisme ketika mengikuti rule lomba :)
Salam kenal,tulisannya bagus :)

indowebpropertiblog mengatakan...

yah sepengetahuan saya lomba untuk seo penulisan tersebut hanya untuk kampanyekan suatu blog atau website yang sedang dopromosikan.

properti indonesia

Kepo Newsdotcom mengatakan...

Situs berita unik dan informatif hanya di http://keponews.com

Fusagi Argopuro mengatakan...

lanjutkan mas

Fatmawati City mengatakan...

saya dulu pernah ikut ajang lomba yang diadakan oleh fatmawati city center

Posting Komentar

ShareThis