18 Februari 2012

Penulis yang Mendambakan Ketenangan


Ketika inspirasi dan ide sedang menghampiri atau hanya sekedar menyapa, dengan segera saya akan mencari dan berdiam diri di tempat yang sepi, tenang dan nyaman, seorang diri. Itu adalah waktu yang sangat berharga untuk menuangkan semuanya ke dalam bentuk tulisan. Karena pada saat-saat berkualitas seperti itulah bagian tubuh yang berperan penting sebagai penghasil karya akan bekerja, otak, hati, pikiran, dan jiwa akan menyatu.

Saya tumbuh menjadi seorang manusia yang tidak mengetahui bakat menulis, sehingga saya menjalaninya dengan apa adanya, dengan semua celotehan menyakitkan, cibiran dan pengingkaran. Bakat yang sedari dulu tidak saya sadari, pernah terkubur hidup-hidup karena ketidakmampuan penglihatan orang-orang di sekeliling. Meskipun bakat pernah mengalami pembuangan, penguburan dan terlupakan, tapi ternyata dia tetap tumbuh dan berkembang menjadi bakat alami, yang bila dipupuk semakin menghasilkan karya nyata.

Namun, sungguh sulit menemukan apa itu support, apa itu dukungan penuh, apa itu pemberian waktu untuk berkembang, yang ada hanyalah seorang penulis yang setiap hari harus berjuang dengan situasi dan kondisi yang sangat tidak kondusif, harus berperang dengan hiruk pikuk dan rutinitas yang tidak begitu penting, dan harus selalu mengungsi ke kolong meja hanya untuk mendapatkan ketenangan untuk berpikir atau sekedar menuangkan gejolak ide ke dalam bentuk tulisan.

Tentu saja kesabaran harus selalu dibawa kemanapun saya pergi, mencoba menahan diri dengan keadaan yang menjengkelkan dan mengubek-ubek emosi serta menyulut reaksi. Meskipun seperti itu, terkadang, tetap saja ada rasa jenuh dengan segala kebisingan ini “Aku tidak bisa fokus! Aku tidak bisa berkonsentrasi! Aku tidak bisa menulis!”, teriakan naluri seorang penulis yang mulai merasakan amarah.

Di lain sisi, saya juga belajar bagaimana menghadapi situasi yang tidak menyenangkan tersebut, mencoba tetap tenang dan tetap menghasilkan karya yang layak dibaca, bukan hanya karya yang sekedar jadi atau setengah perjalanan dan diteruskan dengan setengah hati yang penuh kedongkolan. Pelajaran ini sangat sulit, sangat sulit, dan saya sendiri belum menamatkannya. Solusi yang ada hanyalah tetap melarikan diri ke tempat yang lebih sepi dan hanya ada saya seorang diri.

Pelajaran untuk mengendalikan situasi dan kondisi itu sendiri agar bisa sepaham dengan hasrat untuk menulis bisa dipahami, meski dengan menulikan indera pendengaran. “Tuli sementara” adalah salah satu solusi yang efektif bagi seorang penulis yang tidak nyaman dengan suasana yang bising, meskipun terkadang kebisingan itu menembus dan menghancurkan tembok yang telah dibangun untuk melindungi ide tulisannya. Namun, dalam hal ini memang dibutuhkan kesabaran yang ekstra besar.

Saya hanyalah seorang penulis biasa yang mencoba dan berusaha untuk menjadi seorang penulis yang luar biasa. Saya hanyalah seorang manusia biasa yang baru saja mengetahui bakat alaminya dalam dunia tulis menulis. Dan saya hanyalah seorang penulis amatir yang mencoba meraih peruntungan sebagai penulis professional, salah satu cita-cita dan impian saya.

Meski dengan keadaan seperti ini, meski dengan segala hiruk pikuk dan hal-hal yang tidak penting sama sekali, meski dengan semua ketidakpedulian itu, saya ingin berhasil, saya ingin terus menulis dan membagikan ilmu. Saya ingin menjadi seorang penulis, sampai kapan pun. Jadi, tetaplah bersemangat ^___^v

Gambar salah satu tempat kerja yang saya idam-idamkan, tempat dimana saya bisa meluangkan semua waktu untuk menulis dan menghasilkan karya-karya yang berkualitas. Semoga terwujud juga, amin ya robbal’alamin J


180212

0 komentar:

Posting Komentar

ShareThis